





MENGENAL ETNOMATEMATIKA YANG MEMBUAT MATEMATIKA TAK LAGI MENYERAMKAN
Bagi banyak orang, mendengar kata matematika sering kali memunculkan bayangan tentang deretan rumus rumit, kalkulasi yang membingungkan, dan hafalan teori kaku. Tidak mengherankan jika matematika sering dianggap sebagai materi yang sulit serta menjadi salah satu mata pelajaran yang paling dihindari oleh siswa di sekolah.
Matematika seolah-olah dipandang sebagai dunia abstrak dan rumit yang terisolasi dari kehidupan nyata sehari-hari.
Namun, apakah matematika benar-benar hanya milik kaum intelektual tertentu saja, dan memang sulit dipahami masyarakat lainnya? Di sinilah konsep etnomatematika hadir untuk membalik persepsi tersebut.
Istilah etnomatematika pertama kali dipopulerkan oleh seorang matematikawan asal Brasil bernama Ubiratan D’Ambrosio. Konsep ini mengkaji hubungan erat antara matematika dan kebudayaan.
Etnomatematika menjelaskan bagaimana konsep, penalaran, dan aktivitas matematika sebenarnya tumbuh, berkembang, dan dipraktikkan secara alami di dalam kehidupan suatu kelompok masyarakat atau suku bangsa.
Melalui kacamata ini, kita menyadari bahwa manusia sebenarnya telah menggunakan matematika jauh sebelum rumus-rumus akademis formal dibukukan. Aktivitas seperti mengukur, menghitung, mengelompokkan, hingga merancang pola hiasan telah dilakukan oleh masyarakat tradisional secara intuitif dan tanpa disadari dalam kehidupan sehari-hari maupun dalam pembuatan karya cipta.
Dalam dunia pendidikan formal, etnomatematika kini banyak diadopsi oleh para guru sebagai sebuah pendekatan dan media pembelajaran kontekstual.
Dengan memanfaatkan etnomatematika, guru tidak lagi mengajarkan matematika sekadar sebagai kumpulan hafalan rumus yang menakutkan. Sebaliknya, guru menggunakan etnomatematika sebagai jembatan untuk mengenalkan berbagai konsep abstrak.
Konsep ini mencakup bentuk bangun datar geometri, simetri, pencerminan, dan transformasi. Seluruh konsep tersebut dikenalkan melalui objek-objek budaya lokal yang sudah familiar bagi para siswa.
Ketika siswa diajak melihat langsung bentuk segitiga pada ukiran tradisional atau pola simetri pada kain daerah, matematika berubah menjadi pelajaran yang logis, menyenangkan, nyata, dan sarat akan keindahan nilai budaya.
Etnomatematika untuk Menganalisis Artefak Budaya
Etnomatematika juga dapat digunakan untuk membedah karya budaya Nusantara secara matematis. Beberapa peneliti dari Universitas Kristen Maranatha menggunakannya untuk menganalisis dua artefak tradisional, yakni kain tenun Sumba dan rumah adat Karo.
Pada kain tenun ikat tradisional Sumba, kajian etnomatematika mengungkapkan adanya penataan pola geometri dan simetri yang sangat matang:
- Bentuk Belah Ketupat (rhombus)
Bentuk ini mendominasi motif-motif hiasan seperti buaya (wuya), penyu (karawulangu), dan flora. Bidang belah ketupat tersebut saling berpotongan tegak lurus membentuk susunan motif yang harmonis.
- Bentuk Segitiga dan Lipatan Simetris (symmetrical fold)
Konsep ini teridentifikasi pada motif patula ratu dan motif mamuli. Bentuk segitiga dimaknai sebagai struktur paling stabil. Sementara itu, prinsip lipatan simetris membuktikan penerapan matematika spasial dalam menyusun ornamen. - Konsep Pencerminan (reflective/mirror system)
Konsep ini diterapkan pada penataan posisi motif hewan yang digambarkan berhadapan secara seimbang pada sumbu vertikal maupun horizontal, seperti pada motif singa (mahang), kuda (njara), dan ayam jantan (manu).
Fakta menarik berikutnya, unsur-unsur matematika juga ditemukan dalam rancangan rumah adat Karo. Padahal, masyarakat suku Karo di Sumatera Utara membangun rumah adat bernama Siwaluh Jabu serta menghiasi dindingnya (melmelen dan derpih) tanpa melalui pendidikan matematika akademis.
Para seniman ukir (penggerga) memadukan bangun datar secara alami. Mereka menggabungkan bujur sangkar, segitiga, belah ketupat, dan lingkaran menjadi susunan ornamen dinding yang indah.
Motif-motif seperti lumut-lumut lawi, ser-ser sigembel, tapak Sulaiman, bindu matagah, dan embun sikawiten disusun secara sistematis. Penyusunannya menggunakan konsep garis sejajar, garis berpotongan, serta susunan pengulangan berurut (repetition).
Selain pada ukiran seperti artefak tali ijuk pengret-ret, aktivitas matematika juga tercermin dalam proses perancangan bangunan. Hal ini terlihat saat memperhitungkan ketinggian rumah panggung, membagi delapan area dalam tanpa sekat, hingga menentukan kemiringan dinding bangunan.
Melalui etnomatematika, kita diajak untuk melihat matematika dari sudut pandang yang baru. Matematika bukan lagi materi yang harus ditakuti, melainkan warisan kecerdasan lokal yang telah membentuk keindahan seni, arsitektur, dan tekstil Nusantara selama ratusan tahun.
Dengan membawa etnomatematika ke ruang kelas dan kehidupan publik, kita tidak hanya belajar matematika secara lebih kontekstual, tetapi juga belajar mencintai dan melestarikan kekayaan budaya bangsa.
Tulisan ini adalah bagian dari serial artikel “Saintek Lintas Zaman Menuju Keberlanjutan Budaya & Kearifan Lokal Indonesia” Program Kampanye Tematik Sains dan Teknologi (Resona Saintek) 2026 yang didukung dan didanai oleh Direktorat Diseminasi dan Pemanfaatan Sains dan Teknologi, Direktorat Jenderal Sains dan Teknologi, Kementarian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Republik Indonesia.
