





PESAN LELUHUR DI BALIK TENUN SUMBA
Tenun tradisional Sumba merupakan karya tekstil yang tidak hanya berfungsi sebagai penutup tubuh, melainkan juga media penyimpanan sejarah, stratifikasi sosial, serta ikatan spiritual. Setiap helai kain tenun Sumba dibuat sebagai wujud doa, harapan, dan petunjuk hidup yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Wajah busana tenun Sumba dicirikan oleh pembagian jenis kain berdasarkan gender pemakainya, yakni hinggi untuk kaum laki-laki dan lau untuk perempuan.
Kain hinggi berupa tenun ikat lembaran tradisional yang khusus diperuntukkan bagi kaum laki-laki Sumba, dikenakan dalam kehidupan sehari-hari maupun pada upacara adat penting, termasuk ritual pemakaman.
Kain tenun lau berbentuk sarung tradisional yang dirancang khusus untuk kaum perempuan Sumba. Kain ini melengkapi busana adat wanita dan memegang peranan penting dalam berbagai ritual kehidupan serta upacara kematian.
Baik kain hinggi maupun lau difungsikan sebagai pakaian kehormatan dalam upacara adat dan busana ritual dalam pemakaman.
Motif perhiasan mamuli yang hadir pada kain tenun perempuan berkaitan erat dengan tradisi pernikahan adat sebagai belis (mas kawin) utama. Kehadirannya melambangkan rekonsiliasi dan perdamaian antar keluarga serta penghormatan tinggi atas kedudukan perempuan.
Kain tenun Sumba juga menjadi penanda status sosial. Kualitas, warna, dan motif tenunan menjadi cerminan identitas diri dan penanda stratifikasi sosial masyarakat Sumba, membedakan kalangan maramba (bangsawan), kabihu (rakyat bebas), dan ata (hamba).
Penataan motif pada lembaran tenun Sumba, terutama pada hinggi, disusun secara simetris menggunakan jalur garis horizontal yang membagi permukaan kain menjadi tiga bidang kosmos:
- Talaba Dita (Dunia Atas)
Ranah spiritual tempat bersemayam roh para leluhur.
- La Padua (Dunia Tengah)
Merupakan ranah manusia (padua) untuk bekerja dan menjalani siklus kehidupan.
- Talaba Wawa (Dunia Bawah)
Melambangkan alam bagian bawah.
Ragam motif yang menghiasi kain tenun Sumba sangat kaya dan memuat nilai-nilai pesan leluhur. Beberapa motif antara lain adalah:
- Mamuli
Berbentuk perhiasan tradisional menyerupai rahim perempuan yang khusus dihadirkan pada kain tenun perempuan untuk melambangkan feminitas, kesuburan, dan penghormatan terhadap martabat perempuan.
- Patola Ratu
Pola abstrak geometris yang menutupi permukaan kain perempuan, dipengaruhi oleh budaya perdagangan dari India.
- Motif Figuratif Fauna
Meliputi bentuk naga, akulturasi budaya Tiongkok yang melambangkan kemakmuran dan kebaikan); ayam jantan (manu), simbol alam roh, kewaspadaan, daya tahan hidup, dan ramalan; kuda (njara), simbol status kelas atas dan tradisi menunggang kuda; rusa, berkaitan dengan tradisi perburuan; serta fauna lainnya seperti buaya (wuaya/wuya), penyu (karawulangu), dan singa (mahang).
Melalui keanekaragaman jenis kain seperti hinggi dan lau serta kekayaan motifnya, tenun Sumba menjadi bukti nyata keagungan tradisi tekstil Nusantara yang sarat akan makna dan pesan spiritual para leluhur.
Tulisan ini adalah bagian dari serial artikel “Saintek Lintas Zaman Menuju Keberlanjutan Budaya & Kearifan Lokal Indonesia” Program Kampanye Tematik Sains dan Teknologi (Resona Saintek) 2026 yang didukung dan didanai oleh Direktorat Diseminasi dan Pemanfaatan Sains dan Teknologi, Direktorat Jenderal Sains dan Teknologi, Kementarian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Republik Indonesia.
