Halaman Utama   /   Cerita Saintek   /  

MENGUNGKAP KODE YANG SELAMA INI TERSIMPAN DI BALIK RUMAH ADAT KARO SIWALUH JABU

Berdiri megah di dataran tinggi Sumatera Utara, Rumah Adat Karo Siwaluh Jabu menyimpan pesona arsitektur Nusantara yang luar biasa. Ditinjau dari asal katanya, Siwaluh Jabu bermakna rumah yang dihuni oleh delapan keluarga. 

Bagi suku Karo, mendirikan tempat tinggal bukan sekadar merangkai kayu dan ijuk, melainkan membangun kediaman yang diyakini sebagai tempat bersemayam roh-roh leluhur. Kepercayaan inilah yang membuat Siwaluh Jabu menyimpan lapisan “kode rahasia” di dalam bangunannya. 

Kode yang dimaksud adalah kode yang berhubungan dengan kosmologi dan filosofi yang menjaga keselarasan rohani, serta kode matematis yang melahirkan kepresisian bentuk dan ukirannya. 

Kode Kosmologi dan Makna Simbolis

Kode pertama pada Siwaluh Jabu berkaitan erat dengan tatanan kosmologi dan sistem kepercayaan spiritual masyarakat Karo. Berdasarkan tingkatan kesakralannya, struktur rumah adat Karo terbagi menjadi tiga bagian kosmos. 

Bagian atap (kepala) merupakan bagian paling sakral yang dipercaya sebagai tempat bersemayam roh-roh leluhur. Bagian tengah (badan) merupakan ruang tinggal manusia yang sekaligus menjadi penghubung antara dunia atas dan dunia bawah. Bagian kaki (bawah) merupakan area profan yang tidak berhubungan dengan keagamaan.  

Ada juga penelitian yang menunjukkan bahwa beberapa ragam hias pada Siwaluh Jabu menerapkan prinsip dualisme, yaitu penyatuan dua aspek yang saling berlawanan tetapi saling melengkapi. Prinsip kosmologi dan dualisme ini terpancar kuat pada motif-motif simbolis hiasan dinding pada bagian derpih dan melmelen, antara lain motif tapak Raja Sulaiman dan pengret-ret. 

Motif tapak Raja Sulaiman mengambil nama Raja Sulaiman yang dikenal sakti dan ditakuti oleh makhluk jahat. Wujudnya berupa kombinasi bidang bujur sangkar dan belah ketupat bersambung tanpa terputus, dilengkapi delapan titik sudut yang melambangkan delapan arah mata angin sebagai pedoman hidup masyarakat Karo. Garis yang tidak terputus ini melambangkan kekuatan penangkal bala untuk melindungi seluruh penghuni rumah dari gangguan dan pengaruh buruk. 

Pengret-ret adalah artefak menyerupai figur cicak berkepala dua di depan dan belakang. Dalam mitologi Karo, hewan ini dipercaya dapat membantu menunjukkan jalan pulang bagi orang yang tersesat di hutan. Pengret-ret terbuat dari tali ijuk hitam yang diikatkan menembus lubang dinding membentuk pola segitiga bersambung. 

Selain berfungsi fisik sebagai paku pengikat dinding derpih, ornamen ini memuat makna filosofis sebagai simbol kekuatan, penangkal setan, kesatuan keluarga, kewaspadaan, dan kejujuran. Keberadaan dua kepala pada pengret-ret oleh beberapa peneliti ditafsirkan sebagai representasi dualisme (material-spiritual, tubuh-jiwa) serta ikatan kekeluargaan dalam menyelesaikan persoalan sosial.  

Kode Etnomatematika dan Geometri Visual

Kode berikutnya yang tak kalah menakjubkan adalah penerapan prinsip-prinsip matematika yang tersirat. Tanpa mempelajari teori geometri formal di sekolah, masyarakat Karo secara alami telah menerapkan konsep-konsep matematika dalam merancang bangunan dan membuat ornamen hiasan. Praktik budaya yang memadukan matematika ini dikenal sebagai etnomatematika. 

Pada dinding melmelen dan derpih, terdapat ukiran presisi memadukan berbagai bentuk bangun datar geometri. Berikut ini beberapa motif ukiran dan dekode unsur-unsur geometrisnya, berdasarkan kajian yang dilakukan oleh Halim (2022). 

Lumut-lumut lawi menggabungkan bentuk bujur sangkar, segitiga, dan belah ketupat berupa kotak-kotak putih yang melambangkan perlindungan lumut laut terhadap karang dari hantaman gelombang, sebagai penolak bala dan penyingkir hal jahat. 

Ser-ser sigembel menggunakan pola motif segitiga berwarna gelap yang saling berhadapan dengan latar belah ketupat terang, yang bermakna saling menjaga ketentraman antara penghuni rumah. 

Bindu matagah mengintegrasikan komposisi geometri bujur sangkar dan belah ketupat yang tersusun rapi. 

Embun sikawiten menerapkan konsep geometri lingkaran berulang secara berurutan menggunakan garis-garis lengkung.  

Selain penggunaan bangun datar, etnomatematika pada Siwaluh Jabu juga terlihat dari aktivitas matematika spasial masyarakat Karo. Mereka menerapkan penataan garis sejajar, garis berpotongan, garis vertikal-horizontal, serta susunan pengulangan berurut (repetisi) dan bertumpuk secara sistematis. 

Penerapan logika matematika ini juga tercermin dalam perhitungan teknis arsitektur, seperti ketinggian panggung, menentukan kemiringan dinding, serta membagi delapan area interior tanpa sekat masif. 

Warisan Kecerdasan dan Kearifan Lokal

Melalui penelusuran Siwaluh Jabu, terungkap bahwa rumah adat Karo bukan sekadar bangunan fisik kuno warisan tradisi masa lalu, melainkan monumen kecerdasan dan kearifan lokal yang menyatukan kode budaya dan sains. 

Kode kosmologi-filosofis menjadikan bangunan ini sebagai ruang harmonisasi antara manusia, alam, dan roh leluhur. 

Sementara itu, kode etnomatematika membuktikan bahwa logika presisi geometri telah hidup dan dipraktikkan secara alami oleh nenek moyang suku Karo jauh sebelum masa sains dan teknologi modern. 

Mengungkap kedua kode ini tidak hanya memperluas wawasan kita, tetapi juga menumbuhkan rasa bangga atas tingginya peradaban dan warisan budaya Nusantara. 

Ditulis oleh Iwan Santosa, S.T., M.Kom., MIPR, telah terbit di GNFI (12/10/2026) dengan judul Mengungkap Kode yang Selama Ini Tersimpan di Balik Rumah Adat Karo Siwaluh Jabu. 

Tulisan ini adalah bagian dari serial artikel “Saintek Lintas Zaman Menuju Keberlanjutan Budaya & Kearifan Lokal Indonesia” Program Kampanye Tematik Sains dan Teknologi (Resona Saintek) 2026 yang didukung dan didanai oleh Direktorat Diseminasi dan Pemanfaatan Sains dan Teknologi, Direktorat Jenderal Sains dan Teknologi, Kementarian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Republik Indonesia.

Scroll to Top