





Menyulap Batik dari Keindahan Lembaran Naskah Kuno
BAGIAN KETIGA DARI RANGKAIAN CERITA TENTANG BATIK YANG LUAR BIASA
Batik adalah warisan budaya Indonesia yang telah ada sejak berabad-abad lalu, dan terus beradaptasi mengikuti perkembangan zaman. Dari yang semula hanya dikenakan oleh kalangan bangsawan, kini batik dapat dipakai oleh siapa saja dalam berbagai kesempatan, dengan beragam motif dan makna. Menurut Kementerian Pariwisata, Indonesia memiliki lebih dari lima ribu motif batik yang terinspirasi dari berbagai sumber, mulai dari alam, mitologi, hingga karya sastra seperti naskah kuno peninggalan sejarah.
Naskah kuno merupakan warisan budaya masa lalu yang ditulis tangan oleh para penyair dan pujangga. Di dalamnya tersimpan nilai-nilai sejarah, sastra, kisah kehidupan, hingga ajaran agama. Naskah ini biasanya dihiasi dengan ilustrasi-ilustrasi indah yang disebut iluminasi, atau dalam bahasa Jawa dikenal dengan wedana. Iluminasi tidak hanya berfungsi sebagai hiasan semata, tetapi juga mengandung makna yang mendalam dan mencerminkan nilai-nilai kehidupan pada masa itu.
Keindahan dan jejak identitas budaya yang terkandung dalam naskah-naskah kuno itu menarik minat para peneliti dan budayawan. Meskipun berusia ratusan tahun, estetika hingga pesan moral dan filosofi di dalamnya masih relevan dengan kehidupan modern saat ini. Mereka mendalami dan mencari cara, bagaimana nilai-nilai kehidupan yang tertera pada naskah kuno, baik dari teks maupun iluminasinya, dapat diadaptasi dan dihidupkan kembali dalam konteks masa kini.
Berangkat dari pemikiran itu, beberapa peneliti mempertemukan naskah kuno dengan batik. Walaupun berbeda wujud, keduanya adalah warisan budaya asli Indonesia, jejak peradaban tradisi yang perlu dilestarikan. Keindahan iluminasi dan nilai-nilai dari naskah kuno tersebut “disulap” menjadi kain batik. Dalam konteks ini, batik bukan hanya sekadar kain bergambar, tetapi juga media bercerita yang menyimpan filosofi dan menjadi sarana pelestarian budaya.
Proses transformasi ini juga memberikan kabar baik bagi pengrajin batik di Indonesia, karena batik bisa memiliki motif-motif baru yang berasal dari naskah-naskah kuno yang sebelumnya tidak banyak dikenal masyarakat.
Naskah kuno merupakan warisan budaya masa lalu yang ditulis tangan oleh para penyair dan pujangga. Di dalamnya tersimpan nilai-nilai sejarah, sastra, kisah kehidupan, hingga ajaran agama. Naskah ini biasanya dihiasi dengan ilustrasi-ilustrasi indah yang disebut iluminasi, atau dalam bahasa Jawa dikenal dengan wedana. Iluminasi tidak hanya berfungsi sebagai hiasan semata, tetapi juga mengandung makna yang mendalam dan mencerminkan nilai-nilai kehidupan pada masa itu.
Keindahan dan jejak identitas budaya yang terkandung dalam naskah-naskah kuno itu menarik minat para peneliti dan budayawan. Meskipun berusia ratusan tahun, estetika hingga pesan moral dan filosofi di dalamnya masih relevan dengan kehidupan modern saat ini. Mereka mendalami dan mencari cara, bagaimana nilai-nilai kehidupan yang tertera pada naskah kuno, baik dari teks maupun iluminasinya, dapat diadaptasi dan dihidupkan kembali dalam konteks masa kini.
Berangkat dari pemikiran itu, beberapa peneliti mempertemukan naskah kuno dengan batik. Walaupun berbeda wujud, keduanya adalah warisan budaya asli Indonesia, jejak peradaban tradisi yang perlu dilestarikan. Keindahan iluminasi dan nilai-nilai dari naskah kuno tersebut “disulap” menjadi kain batik. Dalam konteks ini, batik bukan hanya sekadar kain bergambar, tetapi juga media bercerita yang menyimpan filosofi dan menjadi sarana pelestarian budaya.
Proses transformasi ini juga memberikan kabar baik bagi pengrajin batik di Indonesia, karena batik bisa memiliki motif-motif baru yang berasal dari naskah-naskah kuno yang sebelumnya tidak banyak dikenal masyarakat.
Dari Naskah Jawa Kuno Jadi Motif Batik Baru
Ariesa Pandanwangi dkk. (2023) dalam artikel “Art illuminations in 18th – 19th centuries manuscripts from Ngayogyakarta Hadiningrat Palace as a creative industry development” menjelaskan proses penelitian yang bersumber dari naskah kuno asal Yogyakarta dari abad ke-18 dan ke-19. Naskah kuno ini berada di Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat.
Dari ratusan naskah yang tersimpan di sana, peneliti memilih tiga karya yang dianggap paling utuh dan representatif, yakni Babad Mataram, Serat Ambiya, dan Serat Angling Darma. Untuk dapat memahami isi dari ketiga naskah kuno tersebut, para peneliti melakukan telaah memanfaatkan hasil transliterasi dan penerjemahan teks yang telah dilakukan oleh ahli bahasa Jawa Kuno. Proses ini dilakukan agar isi naskah dapat dipahami secara menyeluruh.
Selanjutnya, peneliti mengkaji hubungan antara iluminasi dan isi teks untuk menentukan objek utama yang menggambarkan pesan dari naskah. Objek-objek tersebut kemudian diolah menjadi motif batik baru, tanpa menghilangkan makna dan karakter aslinya. Warna yang digunakan juga disesuaikan dengan warna khas Yogyakarta, yaitu biru tua, hitam, dan cokelat. Selain itu, para peneliti turut memastikan agar motif yang dipilih tidak melanggar larangan yang telah ditetapkan oleh pihak Keraton.
Selain naskah-naskah kuno dari keraton, Ariesa Pandanwangi bersama kelompok peneliti juga membuat motif-motif batik baru dari naskah kuno lainnya di luar lingkungan keraton. Di antaranya adalah karya sastra Cerita Bujangga Manik dari manuskrip Sunda kuno. Manuskrip ini bahkan berusia jauh lebih tua, berasal dari sekitar abad ke-15. Naskah aslinya tidak ditulis di atas kertas, melainkan di atas daun lontar.
Dari ratusan naskah yang tersimpan di sana, peneliti memilih tiga karya yang dianggap paling utuh dan representatif, yakni Babad Mataram, Serat Ambiya, dan Serat Angling Darma. Untuk dapat memahami isi dari ketiga naskah kuno tersebut, para peneliti melakukan telaah memanfaatkan hasil transliterasi dan penerjemahan teks yang telah dilakukan oleh ahli bahasa Jawa Kuno. Proses ini dilakukan agar isi naskah dapat dipahami secara menyeluruh.
Selanjutnya, peneliti mengkaji hubungan antara iluminasi dan isi teks untuk menentukan objek utama yang menggambarkan pesan dari naskah. Objek-objek tersebut kemudian diolah menjadi motif batik baru, tanpa menghilangkan makna dan karakter aslinya. Warna yang digunakan juga disesuaikan dengan warna khas Yogyakarta, yaitu biru tua, hitam, dan cokelat. Selain itu, para peneliti turut memastikan agar motif yang dipilih tidak melanggar larangan yang telah ditetapkan oleh pihak Keraton.
Selain naskah-naskah kuno dari keraton, Ariesa Pandanwangi bersama kelompok peneliti juga membuat motif-motif batik baru dari naskah kuno lainnya di luar lingkungan keraton. Di antaranya adalah karya sastra Cerita Bujangga Manik dari manuskrip Sunda kuno. Manuskrip ini bahkan berusia jauh lebih tua, berasal dari sekitar abad ke-15. Naskah aslinya tidak ditulis di atas kertas, melainkan di atas daun lontar.
Bernilai Ekonomi dan Tetap Relevan di Zaman Kekinian
Hasil penelitian ini tidak hanya menghasilkan motif batik baru, tetapi juga mengangkat dan menunjukkan bahwa nilai-nilai budaya masa lalu dapat tetap hidup dan relevan pada masa kini. Melalui penelitian ini, penerapan motif batik yang tersinpirasi dari naskah kuno tidak hanya menjadi upaya pelestarian budaya, tetapi juga membuka peluang baru dalam pengembangan ekonomi kreatif. Nilai historis dan filosofis yang terkandung dalam setiap iluminasi naskah memberikan identitas yang kuat pada motif batik, sehingga memilki daya saing tinggi di pasar nasional maupun internasional.
Produk batik yang dihasilkan dari adaptasi naskah kuno memiliki nilai estetika dan cerita di baliknya, menjadikannya bukan sekadar kain, melainkan karya bernilai budaya. Dengan mengaplikasikan motif-motif tersebut pada berbagai produk fungsional seperti fesyen, interior, hingga cendera mata, maka jangkauan pasar batik bisa menjadi semakin luas. Langkah ini sekaligus memberi ruang bagi para pengrajin dan pelaku industri kreatif untuk terus berinovasi tanpa meninggalkan akar tradisinya.
Pendekatan ini menunjukkan bahwa warisan budaya tidak hanya bisa disimpan sebagai artefak sejarah, tetapi juga dihidupkan kembali dalam bentuk produk yang bernilai ekonomi tinggi. Inovasi batik yang berasal dari transformasi naskah kuno ini menjadi bukti bahwa budaya masa lalu mampu bertransformasi menjadi kekuatan ekonomi kreatif masa depan.
Produk batik yang dihasilkan dari adaptasi naskah kuno memiliki nilai estetika dan cerita di baliknya, menjadikannya bukan sekadar kain, melainkan karya bernilai budaya. Dengan mengaplikasikan motif-motif tersebut pada berbagai produk fungsional seperti fesyen, interior, hingga cendera mata, maka jangkauan pasar batik bisa menjadi semakin luas. Langkah ini sekaligus memberi ruang bagi para pengrajin dan pelaku industri kreatif untuk terus berinovasi tanpa meninggalkan akar tradisinya.
Pendekatan ini menunjukkan bahwa warisan budaya tidak hanya bisa disimpan sebagai artefak sejarah, tetapi juga dihidupkan kembali dalam bentuk produk yang bernilai ekonomi tinggi. Inovasi batik yang berasal dari transformasi naskah kuno ini menjadi bukti bahwa budaya masa lalu mampu bertransformasi menjadi kekuatan ekonomi kreatif masa depan.
Tulisan ini adalah bagian dari serial artikel “Semesta Inovasi Maranatha” program kampanye “Pemberdayaan Sains dan Teknologi dalam Pelestarian Budaya Asli Indonesia” yang didukung oleh Direktorat Diseminasi dan Pemanfaatan Sains dan Teknologi Kemdiktisaintek Republik Indonesia melalui Program Kampanye Tematik Sains dan Teknologi (Resona Saintek).
Penulis: Virna Pariangan
Penyunting: Tim Editorial Humas Maranatha
Referensi:
Pandanwangi, A., Himatul Alya, S., Budiman, I., Mochtar Apin, A., & Eka Darmayanti, T. (2023). Art illuminations in 18th – 19th centuries manuscripts from Ngayogyakarta Hadiningrat Palace as a creative industry development. Cogent Arts & Humanities, 10(2). https://doi.org/10.1080/23311983.2023.2277070
Pandanwangi, A., Darmayanti, T. E., & Ratnadewi. (2024). Visual expression of the ancient Sundanese manuscript Bujangga Manik into batik motifs. In Proceeding to The 1st International Conference on Arts, Media, and Culture (ICA) (Vol. 1, No. 1).
Santosa, I. (2021). Bangga batik Indonesia yang mendunia. Maranatha News. https://news.maranatha.edu/featured/bangga-batik-indonesia-yang-mendunia
Pandanwangi, A., Darmayanti, T. E., & Ratnadewi. (2024). Visual expression of the ancient Sundanese manuscript Bujangga Manik into batik motifs. In Proceeding to The 1st International Conference on Arts, Media, and Culture (ICA) (Vol. 1, No. 1).
Santosa, I. (2021). Bangga batik Indonesia yang mendunia. Maranatha News. https://news.maranatha.edu/featured/bangga-batik-indonesia-yang-mendunia
