Kisah Si Kura-Kura Pembatik Menembus Zaman

BAGIAN KEDUA DARI RANGKAIAN CERITA TENTANG BATIK YANG LUAR BIASA

Batik kawung adalah salah satu motif batik tertua di Indonesia. Motif ini berasal dari masa Kerajaan Mataram Kuno di Jawa Tengah, sekitar abad ke-13 hingga ke-14 Masehi. Motifnya memiliki bentuk bulatan yang mirip dengan buah kawung atau aren (kolang-kaling) yang tersusun secara geometris. Dalam bahasa Jawa, “kawung” berarti buah dari pohon aren. Ada juga yang menghubungkannya dengan kata “kuangwung” yang berarti kumbang tanduk.

Bayangkan, batik ini sudah ada sejak zaman kerajaan, usianya sudah mencapai 700 hingga 800 tahun. Kawung adalah motif batik yang cukup populer sampai saat ini. Namun, Indonesia juga punya banyak sekali motif batik tradisi yang belum banyak diketahui secara luas. Apa jadinya kalau kita yang hidup di masa modern ini tidak mengenal dan melestarikannya? Warisan budaya itu bisa-bisa hanya jadi peninggalan museum, atau jadi pelajaran sejarah, atau bahkan perlahan hilang ditelan waktu.

Salah satu upaya untuk menjaga keberlangsungan batik dilakukan melalui pemanfaatan sains dan teknologi. Tiga peneliti lintas program studi di Universitas Kristen Maranatha, Dr. Dra. Ariesa Pandanwangi, M.Sn., Dr. Ratnadewi, S.T., M.T., dan Agus Prijono, S.T., M.T. mengembangkan inovasi yang bisa memperpanjang usia dan relevansi batik memanfaatkan teknologi informasi. Mereka menggunakan metode unik, yaitu turtle graphics.

Kura-Kura Pembatik

Turtle graphics pada awalnya merupakan sebuah metode visualisasi dalam bahasa pemrograman Logo yang diperkenalkan oleh Seymour Papert, seorang ilmuwan komputer. Program ini digunakan untuk menghasilkan gambar dengan memanfaatkan pergerakan seekor “kura-kura” di atas sebuah bidang datar berupa kertas. “Kura-kura” itu berwujud robot yang bentuknya setengah bulat, dan memiliki pena di bagian tengahnya.

Turtle robot itu berperan sebagai alat gambar. Setiap kali ia berjalan akan meninggalkan jejak garis di belakangnya. Istilah turtle graphics digunakan karena robot itu bergerak pelan dan meninggalkan jejak, menyerupai seekor kura-kura yang berjalan perlahan. Beberapa spesies kura-kura di dunia nyata pun ada yang meninggalkan jejak dari ekornya saat berjalan.

Gerakan robot kura-kura tersebut dikendalikan melalui serangkaian perintah sederhana seperti maju, mundur, belok kanan, atau belok kiri. Setiap kali arah, jarak, dan sudut geraknya diatur, maka terbentuklah sebuah pola. Mulai dari bentuk sederhana seperti lingkaran dan elips, hingga pola rumit.

Prinsip inilah yang digunakan oleh para peneliti di UK Maranatha, mengembangkan algoritma turtle graphics dengan perintah pemrograman untuk membuat pola kompleks seperti motif batik kawung. Dalam penelitian mereka, setiap motif batik kawung dapat dihasilkan melalui pergerakan kura-kura virtual yang dikontrol berdasarkan perhitungan posisi dan sudut tertentu. Sebelum menggambar dengan turtle graphics, motif batik terlebih dahulu disketsa dan dicari persamaan grafiknya.

Untuk memberi gambaran lebih detail, berikut ini adalah salah satu algoritma yang digunakan dalam salah satu eksperimennya. Posisi kura-kura dinyatakan dalam bentuk tiga parameter (x, y, α). Koordinat Kartesius (x, y) mewakili posisi kura-kura, dan sudut α yang disebut heading (arah kepala) merupakan sudut arah hadap kura-kura. Perintah untuk menggerakkan kura-kura adalah FD (forward) untuk maju, BK (backward) untuk mundur, RT (right turn) untuk berbelok ke kanan, dan LT (left turn) untuk berbelok ke kiri. Dengan menentukan panjang langkah dan sudut perubahan arah, perintah-perintah ini dapat menghasilkan berbagai bentuk pola geometris yang kompleks.

Tidak hanya mampu membuat motif batik, turtle graphics juga punya kelebihan lain. Metode ini dapat menyimpan pola batik yang telah dihasilkan dalam format digital secara efisien. Hal ini memungkinkan proses dokumentasi yang lebih mudah serta membuka peluang untuk rekayasa, modifikasi, dan pelestarian pola batik secara jangka panjang. Dengan demikian, turtle graphics bukan hanya sebagai alat visualisasi, tetapi mampu menjadi sarana pengarsipan digital motif batik tradisional.

Pengembangan Industri & Batik Daerah

Selain motif klasik batik kawung, para peneliti juga memanfaatkan turtle graphics untuk mengembangkan motif batik dari daerah Batang. Motif batik Batang memiliki beragam pola dengan ciri khas warna sogan yang gelap (kuning keemasan), berpadu dengan nuansa cenderung kehitaman atau cokelat tua.

Pembuatan motif batik Batang dilakukan menggunakan algoritma turtle graphics dalam bahasa pemrograman Python. Hasilnya menunjukkan bahwa penyimpanan motif batik dalam bentuk program Python jauh lebih efisien dibandingkan penyimpanan dalam format gambar karena ukuran file yang lebih kecil, tetapi memiliki kualitas yang baik.

Berikutnya, para peneliti juga mengembangkan motif batik dari daerah Purwakarta. Sebetulnya, Purwakarta tidak memiliki sejarah batik. Namun, kota ini mampu menciptakan batik khas dengan mengangkat potensi lokal, seperti sate maranggi, buah manggis, morning glory, dan Waduk Jatiluhur sebagai inspirasi motif. Penelitian pengembangan batik Purwakarta juga menggunakan pendekatan matematis dan turtle graphics.

Selain batik dari dua daerah itu, turtle graphics juga sudah digunakan untuk mengembangkan motif batik dari berbagai daerah di Indonesia, meliputi Bondowoso, Banyumas, Tasikmalaya, Ciamis, Banyuwangi, Sumatra Utara, Kalimantan Barat, Kalimantan Timur, dan Sulawesi Selatan. Rencananya, penelitian akan terus dilanjutkan untuk mengembangkan batik dari daerah-daerah lainnya.

Penelitian ini dilakukan bukan semata-mata untuk pengembangan sains dan teknologi pada ranah akademik saja. Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat dibagikan kepada para pengrajin batik, agar mereka dapat memahami metode baru dan memanfaatkannya untuk mengembangkan desain batik. Dengan demikian, inovasi batik turtle graphics ini dapat mendukung pelestarian budaya sekaligus pengembangan ekonomi kreatif.

Pada akhirnya, batik akan terus hidup, beradaptasi dengan perkembangan teknologi dan zaman. Di sisi lain, para akademisi dan peneliti pun dapat berkolaborasi dengan masyarakat dan industri kreatif, untuk sama-sama bergerak menghasilkan manfaat nyata melalui produk-produk inovatif yang berdaya guna.

Tulisan ini adalah bagian dari serial artikel “Semesta Inovasi Maranatha” program kampanye “Pemberdayaan Sains dan Teknologi dalam Pelestarian Budaya Asli Indonesia” yang didukung oleh Direktorat Diseminasi dan Pemanfaatan Sains dan Teknologi Kemdiktisaintek Republik Indonesia melalui Program Kampanye Tematik Sains dan Teknologi (Resona Saintek).

Penulis: Virna Pariangan
Penyunting: Tim Editorial Humas Maranatha

Referensi:

Ratnadewi, Prijono, A., & Pandanwangi, A. (2020). Application of turtle graphics to Kawung batik in Indonesia. International Journal of Innovation, Creativity and Change, 13(2), 643–658. Diakses dari https://www.ijicc.net/images/vol_13/Iss_2/SC66_Ratnadewi_2020_E_R.pdf

Ratnadewi, Pandanwangi, A., & Prijono, A. (2024). Constructing Batang Batik Motifs Using Turtle Graphics Algorithms. New Design Ideas, 8(1), 207-219. https://doi.org/10.62476/ndi81207

Ratnadewi, Pandanwangi, A., & Prijono, A. (2020). Implementation of art and technology in Batik Purwakarta. Jurnal Teori dan Aplikasi Matematika, 4(1), 64–75. https://doi.org/10.31764/jtam.v4i1.1872

Prijono, A., Pandanwangi, A., & Dewi, R. (2024). Digitalization and down streaming of Sumatra batik motifs as symbols of cultural heritage: turtle graphics as a tool for sustainable development. International Journal of Visual & Performing Arts, 6(2). https://doi.org/10.31763/viperarts.v6i2.1635

Scroll to Top