





Menyulap Batik dari Keindahan Lembaran Naskah Kuno
BAGIAN KETIGA DARI RANGKAIAN CERITA TENTANG BATIK YANG LUAR BIASA
Naskah kuno merupakan warisan budaya masa lalu yang ditulis tangan oleh para penyair dan pujangga. Di dalamnya tersimpan nilai-nilai sejarah, sastra, kisah kehidupan, hingga ajaran agama. Naskah ini biasanya dihiasi dengan ilustrasi-ilustrasi indah yang disebut iluminasi, atau dalam bahasa Jawa dikenal dengan wedana. Iluminasi tidak hanya berfungsi sebagai hiasan semata, tetapi juga mengandung makna yang mendalam dan mencerminkan nilai-nilai kehidupan pada masa itu.
Keindahan dan jejak identitas budaya yang terkandung dalam naskah-naskah kuno itu menarik minat para peneliti dan budayawan. Meskipun berusia ratusan tahun, estetika hingga pesan moral dan filosofi di dalamnya masih relevan dengan kehidupan modern saat ini. Mereka mendalami dan mencari cara, bagaimana nilai-nilai kehidupan yang tertera pada naskah kuno, baik dari teks maupun iluminasinya, dapat diadaptasi dan dihidupkan kembali dalam konteks masa kini.
Berangkat dari pemikiran itu, beberapa peneliti mempertemukan naskah kuno dengan batik. Walaupun berbeda wujud, keduanya adalah warisan budaya asli Indonesia, jejak peradaban tradisi yang perlu dilestarikan. Keindahan iluminasi dan nilai-nilai dari naskah kuno tersebut “disulap” menjadi kain batik. Dalam konteks ini, batik bukan hanya sekadar kain bergambar, tetapi juga media bercerita yang menyimpan filosofi dan menjadi sarana pelestarian budaya.
Proses transformasi ini juga memberikan kabar baik bagi pengrajin batik di Indonesia, karena batik bisa memiliki motif-motif baru yang berasal dari naskah-naskah kuno yang sebelumnya tidak banyak dikenal masyarakat.
Dari Naskah Jawa Kuno Jadi Motif Batik Baru
Ariesa Pandanwangi dkk. (2023) dalam artikel “Art illuminations in 18th – 19th centuries manuscripts from Ngayogyakarta Hadiningrat Palace as a creative industry development” menjelaskan proses penelitian yang bersumber dari naskah kuno asal Yogyakarta dari abad ke-18 dan ke-19. Naskah kuno ini berada di Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat.
Dari ratusan naskah yang tersimpan di sana, peneliti memilih tiga karya yang dianggap paling utuh dan representatif, yakni Babad Mataram, Serat Ambiya, dan Serat Angling Darma. Untuk dapat memahami isi dari ketiga naskah kuno tersebut, para peneliti melakukan telaah memanfaatkan hasil transliterasi dan penerjemahan teks yang telah dilakukan oleh ahli bahasa Jawa Kuno. Proses ini dilakukan agar isi naskah dapat dipahami secara menyeluruh.
Selanjutnya, peneliti mengkaji hubungan antara iluminasi dan isi teks untuk menentukan objek utama yang menggambarkan pesan dari naskah. Objek-objek tersebut kemudian diolah menjadi motif batik baru, tanpa menghilangkan makna dan karakter aslinya. Warna yang digunakan juga disesuaikan dengan warna khas Yogyakarta, yaitu biru tua, hitam, dan cokelat. Selain itu, para peneliti turut memastikan agar motif yang dipilih tidak melanggar larangan yang telah ditetapkan oleh pihak Keraton.
Selain naskah-naskah kuno dari keraton, Ariesa Pandanwangi bersama kelompok peneliti juga membuat motif-motif batik baru dari naskah kuno lainnya di luar lingkungan keraton. Di antaranya adalah karya sastra Bujangga Manik dari manuskrip Sunda kuno. Manuskrip ini bahkan berusia jauh lebih tua, berasal dari sekitar abad ke-15. Naskah aslinya tidak ditulis di atas kertas, melainkan di atas daun lontar.
Selengkapnya mengenai batik Bujangga Manik terdapat dalam artikel ini:
“Riset Alih Visual Ungkap Cara Hidupkan Bujangga Manik dari Naskah Kuno”
Bernilai Ekonomi dan Tetap Relevan di Zaman Kekinian
Produk batik yang dihasilkan dari adaptasi naskah kuno memiliki nilai estetika dan cerita di baliknya, menjadikannya bukan sekadar kain, melainkan karya bernilai budaya. Dengan mengaplikasikan motif-motif tersebut pada berbagai produk fungsional seperti fesyen, interior, hingga cendera mata, maka jangkauan pasar batik bisa menjadi semakin luas. Langkah ini sekaligus memberi ruang bagi para pengrajin dan pelaku industri kreatif untuk terus berinovasi tanpa meninggalkan akar tradisinya.
Pendekatan ini menunjukkan bahwa warisan budaya tidak hanya bisa disimpan sebagai artefak sejarah, tetapi juga dihidupkan kembali dalam bentuk produk yang bernilai ekonomi tinggi. Inovasi batik yang berasal dari transformasi naskah kuno ini menjadi bukti bahwa budaya masa lalu mampu bertransformasi menjadi kekuatan ekonomi kreatif masa depan.
Penulis: Virna Pariangan
Penyunting: Tim Editorial Humas Maranatha
Referensi:
Pandanwangi, A., Darmayanti, T. E., & Ratnadewi. (2024). Visual expression of the ancient Sundanese manuscript Bujangga Manik into batik motifs. In Proceeding to The 1st International Conference on Arts, Media, and Culture (ICA) (Vol. 1, No. 1).
Santosa, I. (2021). Bangga batik Indonesia yang mendunia. Maranatha News. https://news.maranatha.edu/featured/bangga-batik-indonesia-yang-mendunia
